Saturday, January 26, 2013

Belajar Memposisikan Perasaan


Saya suka sekali memasak. Memotong-motong bahan, mengaduk, menumis, menggoreng, memacul (lho?), semua kegiatan di dapur itu terasa begitu menyenangkan (kecuali cuci piring). Tapi terkadang sering merasa ga percaya diri sama hasil masakan sendiri apalagi kalau masakan itu sengaja saya masak buat orang lain.
Soalnya pernah ada yang pipinya jadi merah merona setelah makan masakan saya. Kirain tersipu malu karena saking enaknya, eh ternyata karena dia alergi udang dan saya lupa malah masukin udang >.<. Pernah juga waktu rapat bawa kue yang ditaburin gula halus, semua peserta rapat yang biasanya lahap waktu itu cuma ngambil satu-satu dan ga nambah lagi. Kenapa,yak? Pas kuenya saya coba..cuihh.. asiiiiiiiin bangeett, ternyata kuenya salah taburan, yang saya kira gula halus ternyata garam #tepokjidat (maap yak, squidy...    >.<) . Akhirnya karena perasaan bersalah di rapat selanjutnya saya bawa snack kemasan aja,daaaan..pas yang mimpin rapat makan snacknya..


"kok rada-rada alot ya,lin?"
"oh,mlempem kali yak.."
"huaa..kadaluarsa,lin!!??!!"
"hahh..serius??"
haduuuh >.< maaaap..

Tapi tenang saja, sisanya banyak berhasilnya kok. Tapi ya gitu, suka masih deg-degan nunggu reaksi orang yang makan masakan saya. Sampe suatu hari ada yang bilang
"Udah..tenang aja..wanita itu didominasi perasaan, jadi jangan terlalu khawatir sama rasa masakannya.."

haha, iya juga. didominasi "perasaan". hmm.

jadinya mau nyeritain apa sih,lin? kok ga nyambung sama judulnya?

haa..iya, maaf sebelumnya kalo berasa jaka sembung bawa gitar (ga nyambung,jreng..)
sebenarnya dari mukadimah di atas, intinya saya ingin membicarakan tentang perasaan.

Ya, perasaan. Perasaan apa saja. Sedih, senang, cinta, benci, galau, tenang, marah, dendam, semangat, cemburu, ah..semuaaanya.

Semua manusia pasti pernah merasakan segala jenis perasaan itu. Hanya saja, yang menjadi pembeda, pembeda yang sangat-sangat nyata, terletak pada bagaimana setiap diri memposisikan perasaan-perasaan tadi.

Bahagia misalnya. Ada yang bahagia ketika ia mendaki gunung, ada yang bahagia ketika berbelanja, bahkan ada yang bahagia ketika dugem atau joget jedag-jedug ga jelas di bar atau diskotik. Tapi justru ada juga yang bahagia ketika bisa menambah hapalan Quran-nya, meski seayat- dua ayat saja. Ada yang justru bahagia ketika sepanjang hari di musim panas berpuasa dan sepanjang malam di musim dingin begitu lekat dengan shalat malam.

Tentang rasa iri juga. Ada yang dunianya menjadi sempit jika melihat yang lain punya kendaraan baru, rumah baru, pakaian baru, dan sebagainya. Ada juga yang menjadi tak nyaman jika yang lain mendapat jabatan atau kebahagiaan. Namun ada juga, yang iri pada saudaranya yang bersedekah di pagi hari hingga ia pun mengusahakan diri agar dapat bersedekah juga (padahal bisa jadi siang hingga malam ia juga telah banyak sedekah). Atau ada juga yang merasa resah kalau saudaranya lebih lelah dalam berdakwah sehingga dirinya pun semakin awas menanti peluang beramal.

Lalu tentang kebanggaan. Ada yang bangga dengan koleksi berlian, segala bentuk perhiasan, kecantikan, ketampanan, pendidikan yang tinggi, gelar , penghargaan, maupun jabatan. Namun ada juga yang bangga karena tak memiliki mata, yang dengannya ia merasa lebih dekat dengan Allah dan jauh lebih terjaga dari dosa.

Ya, begitulah.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan perasaan-perasaan itu
hanya saja memang diri ini yang harus lebih pandai memposisikannya, lebih teliti melihat kemana semua seharusnya bermuara..

Jadi malu pada Rasulullah dan para sahabat, membaca kisah mereka..betapa, betapa tergambar jelas bahwa perasaan-perasaan mereka begitu berorientasi akhirat..



Ibnu Mas'ud berkata pada murid-muridnya, yang merupakan generasi Tabi'in, generasi setelah sahabat.
Berkata kurang lebih seperti ini:
"Kalian tidak akan pernah bisa menyamai para sahabat"
Pernyataan ini mengundang tanya bagi murid-murid, "Mengapa Wahai Ibnu Mas'ud?"
"Karena para sahabat itu teramat zuhud pada dunia dan sangat besar hasratnya pada akhirat"

betapa jauuuh, ya Rabb :'(

No comments:

Post a Comment