Sunday, March 31, 2013

Saya Dulu, Saya Lagi, Saya Terus


Agaknya akhir-akhir ini terlalu sering "mempedulikan" orang lain. Terlalu kurang "egois". Terlalu memenuhi pikiran dan perasaan dengan "dia", "dia", atau "mereka".

Ah, harusnya ini tentang saya dulu, saya lagi, dan saya terus.



Ketika membaca nasehat atau ayat yang membicarakan kemunafikan atau kelalaian manusia misalnya. Seringnya memicing mata, "hmm..yang seperti itu kayaknya si dia atau si dia.."

Atau ketika tertampak perbuatan-perbuatan orang lain seringnya, yang langsung terpikir seketika,
"kok dia begini"
"kok bisa-bisanya dia begitu?"
"padahal dia kan blablablabla.."

padahal seharusnya, sekali lagi, ini tentang
saya dulu, saya lagi, dan saya terus..

Nasehat-nasehat dan segenap peringatan harusnya secara "egois" digunakan untuk diri saya sendiri dulu. Harusnya dengan "apatis" banyak berkutat dengan diri sendiri, sibuk menghitung dan mengoreksi.

Sering sekali ada banyak hal yang saya pertanyakan teratas orang lain. Tapi ketika terlampau fokus pada “mereka”, maka ini sama sekali jadi tidak konstruktif.

Maka sekali lagi sekarang, fokusnya harus diganti ke “saya”: 
“Saya pernah begitu tidak ya selama ini?"
 "Hmm..jadi kalau seperti itu tampak tidak baik, saya tidak boleh seperti itu.."
"Kalau saya mengalami 'musibah' seperti itu saya harus bagaimana,ya?"

Sederhana. Terkadang apa-apa yang tidak sempurna ada, agar kita belajar.

ya, sekali lagi, untuk hal-hal seperti ini harusnya
saya dulu, saya lagi, dan saya terus.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Tahrim 66:6)







ya, itu untuk "hal-hal ini"
tapi pada dasarnya, untuk semua hal adalah tentang
Allah dulu, Allah lagi, Allah teruuuusss... :')

No comments:

Post a Comment