Tuesday, March 12, 2013

Naif


"Kamu punya perasaan dan kamu tahu itu. Kamu , jika mau jujur, pasti bisa merasakan jika ada hal-hal yang mulai salah dan berubah. Jangan pura-pura tak peka pada tanda-tanda yang diberikannya. Jangan berpura-pura semua masih wajar dan baik-baik saja. Kamu tahu semua sudah lebih dari cukup untuk disebut: jelas, yang perlu kamu lakukan adalah menegas! Jangan naif!"



"..."

"tidak, aku tidak memintamu jadi kaku dan pendiam. Aku tidak sedang memintamu menjadi orang lain. Hanya saja, untuk beberapa hal, kamu harus jauh lebih berhati-hati karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Mengerti kan, ya?"

"batasnya?"

"batas? Ah, ya..batasnya. Kebingungan tentang batasan pasti yang sering membuatmu, dan juga beberapa orang, terjebak pada ekstrem kiri maupun ekstrem kanan.
Ada sebuah tes sederhana, bayangkan, coba bayangkan jika kamu berinteraksi dengan seseorang dengan topik obrolan, gaya bahasa, dan juga intonasi tertentu kemudian ketika interaksi itu terjadi di sana ada ayahmu, atau kakekmu, atau saudara laki-lakimu, atau bahkan suamimu.. bayangkan apakah segala topik obrolan, gaya bahasa, dan juga intonasimu tetap sama walaupun mereka yang kusebutkan tadi ada. Jika sama, maka mungkin kau bisa melanjutkannya. Tapi jika menjadi berbeda karena engkau merasa menjadi malu atau setidaknya tak nyaman, maka itu pertanda kau mungkin harus menghindarinya.."

"kau suka hujan, kan? dan kau pasti tahu hujan yang turun tak hanya menumbuhkan benih yang sengaja kau tanam, tanpa kau mau ia juga bisa menyuburkan gulma dan ilalang. Bahkan terkadang membuat tubuhmu ataupun jemuran menjadi kebasahan, atau membuat banjir menjadi datang. Oleh karena itulah meski menyukai hujan, halaman perlu sesekali kau siangi, payung-payung perlu dikembangkan, dan manusia pun belajar tak membuang sampah sembarangan.."








cermin yang bening selalu asik untuk bercermin ^_^


No comments:

Post a Comment