Monday, March 4, 2013

Kepada Hujan



Hai, hujan.. terimakasih telah menemaniku seharian.
Kau tahu? Akhir-akhir ini cuaca hatiku seperti langit yang menurunkanmu. Agak tak menentu. Suatu saat begitu terang namun tiba-tiba mendung bisa saja menggantung. Dan katanya, membuat orang lain menjadi agak bingung.



Tenang saja, aku sebenarnya menganggapnya sesuatu yang menyenangkan. Sebutlah itu suatu..hmm..dinamisasi kehidupan.Tapi akhir-akhir ini di luar sana semakin ribut saja suara-suara mulai dari yang berbisik, bergumam, hingga meneriakkan dengan lantang, "aku ingin melihat pelangi..aku ingin melihat pelangi"
Berisik sekali.

Aku memang menyukai pelangi. Tapi tidakkah mereka pahami bahwa hadirnya adalah ketika kau dan tuan mentari telah berkompromi? Aku tak bisa serta merta memintanya kapan saja, bukan?

Tak ada yang ingin disembunyikan. Apalagi ini tentang kebahagiaan. Hanya saja memang ada yang aku titipkan pada tuan mentari dan juga padamu hujan. Hingga suatu hari nanti kalian membuat kesepakatan untuk membiaskannya menjadi selengkung pelangi. Ya, yang selama ini mereka tanyakan dan cari-cari.

Sudah? Hanya begitu saja? Hanya untuk memenuhi ekspektasi mereka?
Ahaha..tentu saja tidak, hujan..
Kau tidak mengira aku sepragmatis itu,bukan?
Aku tetap sadar pelangi itu hanya sekedar pembiasan. Yang sekali lagi, unsur pembentuknya sebenarnya tak pernah meniada. Tuan mentari dan juga tentunya kau, hujan.

Maka selanjutnya perjuangan harus tetap dilanjutkan, meski langit tak berpelangi. Perjuangan akan tetap dilanjutkan. Bahkan meski kau begitu jarang muncul, hujan..
Perjuangan akan tetap dilanjutkan hingga..
hingga surga menjelang :')
insyaAllah


ya, begitulah, hujan.
Maafkan ceracauku yang terlampau panjang..








bukankah hijaunya surga (masih) lebih menggiurkan dari hati yang merah jambu?






Syahwatku adalah surga
Dan kami telah memilih jalannya 
Telah kulakukan perniagaan tuk songsong kesejukan nyata
aamiin >.<

2 comments: