Sunday, April 7, 2013

Tentang yang Menemani


Tadi pagi saya pulang (atau pergi,ya? -_-a) ke Bandung dari Tangerang. Saya mengendarai sebuah travel namun kali ini tidak duduk di muka di samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai mobil supaya baik jalannya, hey..tuktiktaktiktuktiktaktiktuktiktaktiktuk  fokus,lintang! fokus! -_-"



Jadwal keberangkatannya pk 09.30, tapi sampai pk 09.45 sang supir belum juga nampak batang hidungnya, akhirnya beberapa saat kemudian pak supirnya muncul. Ya, dan kami pun memulai perjalanan. Tadi pagi penumpangnya hanya saya dan tiga orang ibu-ibu yang sudah lumayan sepuh. Baru beberapa meter perjalanan salah seorang ibu berucap,

"lho, kok lurus, pak? bukannya biasanya belok di belokan barusan,ya?"
"oh, iya, bu? waduh, kelewat berarti..saya emang baru pertamakali ke daerah sini jadi belum hapal.."
"hoo.."

beberapa menit kemudian sebelum masuk tol mobil kami berputar-putar di suatu komplek yang seingat saya tak lazim dilalui sebelum masuk tol. Dan akhirnya ibu-ibu yang tadi pun bertanya lagi,
"biasanya kok ga lewat sini,ya?"
"iya, nih, bu..kayaknya saya nyasar..kalau ibu hapal ga ini kalau mau ke tol lewat mana?"
"waduh, kalo saya mah ga hapal daerah sini, pak. Tapi seinget saya biasanya mah ga lewat komplek-komplek begini.."

dan kami, penumpang yang lain, juga tidak ada yang hapal jalannya. Akhirnya hampir 45 menit kami berputar-putar sampai akhirnya masuk tol. Alhamdulillah, sudah masuk tol. Berarti sudah amanlah ya dari nyasar-nyasar lagi.

Saya pun terlelap sejenak, kurang lebih satu jam kemudian saya terbangun, melihat sekitar dan.. oh, masih di jalan tol. Eh, tapi kok banyak kontainer dan rasanya tak biasanya lewat jalan ini. Ketika melihat papan penunjuk jalan yang terbaca adalah "Tanjung Priok". Waduh, kenapa sampe ke Tanjung Priok segala?

"Udah jauh ya, pak kelewatnya?"
"ga kok,bu.. cuma dikit. Tadi di jalan yang harusnya belok saya lurus..tapi ga jauh kok, kita bisa puter balik.."
terdengar percakapan antara sang kodok, eh, sag supir dengan ibu-ibu lain yang duduk di depan saya.

"kenapa, bu? Nyasar lagi ?" tanya saya.
"iya, neng.. katanya mah cuma kelewat dikit. Tapi kok ini udah nyampe tanjung priok aja.. lagi ngantuk cenah si bapaknya"
"hoo.."

Yak, dan setelah empat jam perjalanan, sekali lagi, empat jam perjalanan akhirnya kami bisa sampai di bandung, alhamdulillah \(^.^)/
dan setelah keluar gerbang tol Pasteur sang supir berkata,
"ada yang tau pool-nya dimana? Saya belum pernah ke pool yang di Dago soalnya.."

*gubrak*

Hmm..ya, perjalanan tadi siang luar biasa memang. Bukan tentang pak supir yang tersesat dan tak tahu kemana jalan pulang, tapi lebih ke sesiapa yang menemani saya dalam perjalanan. Ya, ibu-ibu yang ada di travel tadi. Perjalanan tadi siang yang mungkin bisa saja berlangsung sangat menyebalkan bisa terasa begitu menyenangkannya. Bayangkan, tak ada sama sekali pernyataan yang nadanya menyalahkan sang supir tadi. Tak ada pula yang sekedar menyindir dengan nyinyir. Yang ada hanya kalimat-kalimat penuh pemakluman.

"haduh, kasian si bapak..harusnya mah kalo masih baru jadi supir ada petugas yang nemenin dulu buat nunjukin jalan.."

atau

"Hoo..tadi teh si bapak bilangnya rada ngantuk, pantesan dari tadi teh nguap terus. Berarti kita jangan tidur, harus sering ngajak ngobrol si bapak biar ga ngantuk.."

wah, masyaAllah :')
untung saja di perjalanan tadi saya ditemani mereka, orang-orang yang lapang hatinya. Tidak terbayang kalau tadi ada penumpang yang uring-uringan, ngomel-ngomel, dan sebagainya.

Ya, ini tentang siapa yang kau pilih untuk menemanimu menempuh suatu perjalanan. Memilih siapa yang menemani perjalanan bisa jadi sama pentingnya dengan perjalanan itu sendiri. Karena ia yang menemanimu itu bisa diajak berbincang ketika bosan, menyemangati atau mendorong ketika terhenti, saling berbagi bekal, atau seminimal mungkin membuat diri merasa nyaman dan tidak risih atau tak aman dengan kehadirannya.

Tentang yang menemani dalam perjalanan. Dalam angkutan saja kita biasanya akan memilah ingin duduk di sebelah orang yang seperti apa atau menghindari orang-orang yang bagaimana. Karena mendapat teman seperjalanan yang kurang menyenangkan bisa membuat perjalanan terasa amat panjang, melelahkan, dan membosankan.



Tetangga adalah sebelum rumah, teman adalah sebelum jalan dan perbekalan adalah berpergian. (Al Khatib)
Tentang yang menemani dalam perjalanan. Tak cukup hanya mendapat teman yang tidak mengganggu karena bahkan teman perjalanan yang terlihat menyenangkan pun bisa menjadi sebuah ujian. Misalnya, mendapat teman perjalanan yang hobi mengajak berbicara tapi banyak membicarakan hal yang sia-sia.
>.< astaghfirulllah..



Ya, sebatas perjalanan Tangerang-Bandung saja begitu bersyukurnya mendapat teman-teman seperjalanan yang baik, apalagi kalau mendapat "teman" seperjalanan yang baik untuk menapaki perjalanan panjang menuju surga, ya? :")








Kau tahu? 
Perjalanan kita bukan sekedar menua bersama atau menghambur-hambur modal yang sering orang sebut dengan cinta. 
Perjalanan kita adalah maraton yang panjang yang mungkin saja bisa membuat salah satu dari kita limbung dan kelelahan hingga yang satu lagi harus memapah sambil tak henti menyemangati. 
Perjalanan kita adalah perjalanan yang bisa saja ditegah-tengahnya penuh dengan hal menyenangkan yang justru  mendistraksi 
Sarat dengan kerikil yang membuat jatuh dan terluka berkali-kali. 
Tapi di saat yang sama kita akan saling percaya dan saling menguatkan untuk tak berhenti 

karena kita tahu kita hanya boleh beristirahat ketika surga telah bersama kita tapaki





kuatkanlah ikatannya
tegakkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya

terangilah dengan cahyaMu
yang tiada pernah padam
ya Robbi bimbinglah kami

_rabithah








8 comments:

  1. Lagi dan lagi...
    sukaaaaaaa..
    ah Lintang.. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah..
      ah, teteh..terimakasih sudah sering berkunjung :')

      Delete
  2. Tentang yang menemani di perjalanan. Seorang perempuan yang harus didampingi oleh mahram-nya. Dan kondisi saat ini, dimana seorang wanita bepergian sendirian itu wajar. Gimana pendapat teteh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm, kalo ga salah yang ini ya, Bel, haditsnya:

      “Janganlah seorang wanita pergi kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

      Tapi dari yang pernah teteh pelajari, kita harus memahami dahulu konteks hadits ini. Penyebab (‘Illat) larangan hadits ini adalah karena jika wanita pergi sendirian tanpa suami atau mahram pada zaman unta dan keledai menempuh gurun atau jalan-jalan sepi dikhawatirkan terjadi sesuatu atasnya atau melahirkan fitnah baginya.

      Kalau kondisi zaman telah berubah seperti zaman sekarang, di mana perjalanan sudah menggunakan kapal, pesawat, bis, yang penumpangnya puluhan bahkan ratusan. Kondisi ini tentu amat sulit bagi seseorang untuk berbuat senonoh dan melecehkan wanita, karena di depan banyak manusia. Maka, tak mengapa ia pergi sendiri dengan syarat memang keamanan telah terjamin.

      Begitu sepemahaman teteh..
      wallahua'lam bishowab..

      Delete
    2. tanya lagi.. hehe

      Kapan konteks dalam hadist/ayat al quran bisa disesuaikan dgn zaman.

      jujur masih bingung. Kalo misal tentang pakai kerudung, kita nggak boleh kan bilang 'sekarang kan, udah aman'. Hanya karena, di Al Quran disebutkan kalimat "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.".

      sebab turunnya perintah/larangan dan hikmah diturunkannya perintah/larangan beda kan teh?

      cari-nya dimana sih teh, kalau mau tau.. yg mana yg sebab, yang mana yg hikmah. soalnya kalo ketuker bisa bahaya.

      Delete
    3. Ho, emang bahaya banget, bel kalo hikmah sampe ketuker sama 'illat. Dan perbedaan hikmah serta 'illat , tentunya bukan orang awam seperti teteh yg berhak menentukan. Yang bisa membedakan mana hikmah mana 'illat tentunya hanya ulama yg ilmunya mumpuni dan membedakan keduanya berdasarkan kaitannya dengan hadits lain, tafsir quran, asbabun nuzul, shirah, dsb. Sepakat lah ya kalo masalah ini. Jadi kalo ditanya ke teteh bedanya 'illat sama hikmah, wah itu kasuistik dan kita sebaiknya merujuk pada ulama.

      Hmm, nah kalo terkait hal ini. Teteh jadi nemu catetan teteh waktu belajar ttg hal ini. Kurang lebih seperti ini:

      Delete
    4. Ada bbrapa hadits  yang menguatkan bahwa 'illat dr pelarangan wanita bepergian tanpa muhrim adalah krn bahaya:

      Hadits pertama:
      Dari Adi bin Hatim, secara marfu’: “Hampir datang masanya wanita naik sekedup seorang diri tanpa bersama suaminya dari Hirah menuju Baitullah.” (HR. Bukhari)

      Hadits ini merupakan pujian atas kejayaan Islam pada masa yang akan datang, sehingga keadaan sangat aman bagi wanita untuk bepergian jauh seorang diri. Hadits inilah yang dijadikan Imam Ibnu Hazm membolehkan wanita untuk keluar seorang diri tanpa mahram. Maka janganlah kita heran justru banyak ulama yang membolehkan wanita pergi seorang diri jika dalam keadaan aman dan jauh dari fitnah.



      Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Aisyah dan Ummahatul Mukminin lainnya, pergi haji pada zaman khalifah Umar Al Faruq tanpa mahram yang mendampinginya, justru ditemani oleh Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Dan tak satu pun sahabat lain yang menentangnya, sehingga kebolehannya ini dianggap sebagai ijma’ sahabat. (Fathul Bari, 4/445)

      Sebagian ulama membolehkan seorang wanita bepergian ditemani oleh wanita lain yang tsiqah. Imam Abu Ishaq Asy Syairazi dalam kitab Al Muhadzdzab, membenarkan pendapat bolehnya seorang wanita bepergian (haji) sendiri tanpa mahram jika keadaan telah aman.

      Sebagian ulama madzhab Syafi’i membolehkannya pada semua jenis bepergian, bukan cuma haji. (Fathul Bari, 4/446. Al Halabi)

      Ini juga pendapat pilihan Imam Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Muflih dalam kitab Al Furu’, dia berkata: “Setiap wanita yang aman dalam perjalanan, bisa (boleh) menunaikan haji tanpa mahram. Ini juga berlaku untuk perjalanan yang ditujukan untuk kebaikan.” Al Karabisi menukil bahwa Imam Syafi’i membolehkan pula dalam haji tathawwu’ (sunnah). Sebagian sahabatnya berkata bahwa hal ini dibolehkan dilakukan dalam haji tathawwu’ dan semua jenis perjalanan tidak wajib seperti ziarah dan berdagang. (Al Furu’, 2/236-237)

      Al Atsram mengutip pendapat Imam Ahmad bin Hambal: “Adanya mahram tidaklah  syarat dalam haji wajib bagi wanita. Dia beralasan dengan mengatakan bahwa wanita itu keluar dengan banyak wanita dan dengan manusia yang dia sendiri merasa aman di tengah-tengah mereka.”

      Imam Muhammad bin Sirin mengatakan, “Bahkan dengan seorang muslim (pria-red) pun tidak apa-apa.”

      Imam Al Auza’i mengatakan, “Bisa dilakukan dengan kaum yang adil dan terpercaya.”

      Imam Malik mengatakan, “Boleh dilakukan dengan sekelompok wanita.”

      Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Bisa dilakukan dengan seorang wanita merdeka yang terpercaya.” Sebagian sahabatnya berkata, “Hal itu dibolehkan dilakukan sendirian selama dia merasa aman.” (Al Furu’, 3/235-236)

      Ini juga pendapat Imam Ibnul Arabi dalam kitab ‘Aridhah Al Ahwadzi bi Syarh Shahih At Tirmidzi. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam kutipan Al Karabisi disebutkan bahwa perjalanan sendirian bisa dilakukan sepanjang jalan yang akan ditempuhnya dalam kondisi aman. Jika perjalanan ini diterapkan dalam perjalanan haji dan umrah maka sudah sewajarnya jika hal itu pun diterapkan pada semua jenis perjalanan sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama.” (Fathul Bari, 4/445) Sebab, maksud ditemaninya wanita itu oleh mahram atau suaminya adalah dalam rangka menjaganya. Dan ini semua sudah terealisir dengan amannya jalan atau adanya orang-orang terpercaya yang menemaninya baik dari kalangan wanita atau laki-laki, dan dalil-dalil sudah menunjukkan hal itu.

      Delete
    5. jazakillah khayr.. penjelasannya teh Lintang.

      Delete