Thursday, November 22, 2012

Bonding



Beberapa waktu lalu saya mengalami sesuatu yang membuat saya sungguh-sungguh tak bernafsu makan. Bukan.., tentunya bukan masalah stress, patah hati, maupun kegalauan yang menjadi penyebabnya, penyebab ha itu terjadi ialah.. sakit gigi.

Selain rasanya yang cenat-cenut ga karuan saya juga jadi kesulitan mengunyah, padahal perut tetep kerasa laper. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke swalayan membeli bubur dan biskuit bayi, soalnya dua benda itu yang terlintas dipikiran saya waktu membayangkan makanan yang empuk-empuk dan ga perlu banyak dikunyah.

Sewaktu lagi asik-asiknya milih bubur sama biskuit bayi tiba-tiba saya didatangi salah seorang SPG (sales promotion girl),

"selamat sore, bunda.. wah lagi belanja bubur sama biskuit ya ?"
eh O_o

"Udah pernah coba biskut ***** yang ini belum, bunda? Bentuknya ada yang bentuknya huruf ada yang bentuknya binatang, jadi dedenya bisa sekalian belajar, blablablabla...."

waduh, ni si mbak SPG-nya semangat banget ngejelasinnya. Susah dipotong.

"Nih juga ada bubur bayi penambah berat badan dengan rasa pisang, ini baru lho, bunda.. karena lagi promosi, bunda bisa dapet 10 sachet gratis.."

dan SPG itu pun meletakkan 10 sachet bubur bayi itu di keranjang belanjaan saya tanpa bisa saya mengelak dan menghindar ataupun melarikan diri (?)

"Oia,bunda..memang dedenya umur berapa bulan ?"

Ngek, dede? adik gue maksud, lo? 16 tahun,mbak.. -_-a

" oh, ini sebenernya bubur sama biskuit bayinya sebenernya buat saya, mbak.." fiuhh..akhirnya saya bisa bersuara juga. Demi mendengar jawaban saya barusan wajah mbak-mbak SPG yang tadinya sumringah itu berubah jadi agak aneh, seolah berkata "ngemeng dong dari tadi, gue udah panjang lebar jelasin juga"

akhirnya mbak-mbak SPG itu pergi dan membawa pergi juga 10 sachet bubur yang tadi udah ditaro di keranjang saya -___-"

Terus, apa hubungannya sama judulnya??

Haha, ga ada, sih. Hanya saja, pas inget kejadian ini saya jadi inget sama beberapa kajian parenting yang pernah saya simak. Dan kali ini saya ingin berbagi tentang "Bonding".

Bonding. Yak, ikatan. Ikatan yang dimaksud disini ikatan emosi (emotional bonding).

Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan emosi yang kuat antara orang tua dengan anak yang dikenal dengan istilah "emotional bonding". Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun tak ada orang tua di sisi. Karena tak selamanya orang tua bisa mendampingi hidup anak, emotional bonding yang kuat terhadap orang tualah yang nantinya berfungsi sebagai pengarah.

Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber, pubertas, pra nikah dan nikah. Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan arahan. Maka meski tak ada orang tua di sisi, nasehat-nasehat & teladan orang tua tetap dijaga. 

Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat mesum. Ia punya hasrat. Hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya Allah tak berikan 'pertanda'. Seperta yang terdapat dalam surat Yusuf:24.

 Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat pertanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

 'Pertanda' yang dimaksud adalah nasehat ayahnya yang tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh nafsunya. Demikian menurut tafsir Ibnu Katsir. Bayangkan! Nabi Yusuf yang terpisah jauh oleh ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat zina tersebab bonding.

Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat indah orang tua yang tertanam dalam jiwa. Saat krisis jiwa melanda anak, ia tak kemana-mana cari solusi. Ia yakin ada orang tua yang siap membantu cari jalan keluar. Percaya sepenuhnya.

Seorang wanita yang sedang konflik dengan suaminya, akan curhat ke ayahnya. Bukan ke lelaki lain. Rumah tangga pun menjadi terselamatkan sebab ada father bonding. Anak yang tak punya father and mother bonding maka tak percaya dengan orang tuanya. Lebih dengar kata temannya sekalipun buruk.


Bagaimana menciptakan emotional bonding degan anak? 

Usia dini jangan diabaikan. Bermula dari bayi dalam kandungan. Ayah dan bunda terlibat bersama. Saat bayi dalam kandungan, jadikan suara ayah-bunda nya yang lebih banyak didengar. Ajak ia bicara sambil mengusap perut bunda. Saat anak lahir, sambutlah anak dalam pelukan yang hangat. Hadapkan wajah kita ke hadapannya. agar perlahan discan dalam memorinya.

Usia 0-2 tahun adalah fase pengikatan. Disinilah fase dimana ayah-bunda harus jadi aktor utama dalam pengasuhan. Bukan yang lain. Di fase inilah Allah perintahkan ibu untuk memberinya ASI. Yang bukan sekedar susunya, namun juga belaian yg dibutuhkan anak. Betapa banyak ibu yang menitipkan ASI nya pada botol. Tak memberinya langsung dari puting. Sehingga anak sehat namun jiwanya kosong. Pada fase ini juga seorang ayah harus banyak terlibat mengasuh. Luangkan waktu tuk ganti pampers atau gendong anak sambil bercerita.

Dalam usia 0-2 tahun jangan terburu-buru kenalkan anak pada media meskipun isinya bagus. Sebab, bonding belum terikat sepenuhnya. Jika ingin ajarkan anak tentang quran, jangan dari kaset. Akan lebih elok jika orang tuanya yang mnyuarakan sekalipun belum fasih. Agar tercipta bonding. 

Sekalipun ada pengasuh lain, peran mereka hanya membantu. Bukan tokoh sentral. Agar bonding yang terjalin bukan kepada meraka namun kepada orang tuanya.

Keluarkan segala energi: suara, bahasa tubuh, dan ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori anak. Inilah yang menjadi dasar munculnya bonding.

Bagaimana jika anak sudah melewati usia 2 tahun sementara kita terlambat melakukan upaya bonding ?

Masih sangat bisa. Asal kita bisa membaca golden moment. Golden moment ini adalah situasi dimana anak benar-benar butuh hadirnya kita. Bisa tanpa sengaja atau juga kita rekayasa. Golden moment yang dimaksud ada dua : yakni saat anak sedih dan saat anak unjuk prestasi. Hadirlah dengan sungguh-sunggug di dua waktu ini.

Saat anak sedih, ia butuh sandaran jiwa. Butuh ada yang memeluk & dengarkan curhatnya. Hadirlah segera. Jangan sampai orang lain yang ambil. Tak pekanya orang tua saat anak sedih malah buat bonding yang dibuat makin rapuh. Kepercayaan menurun dan akhirnya anak lari kepada sosok lain.

Dan hadirlah saat anak unjuk prestasi : misalnya, baca puisi di sekolah, ambil raport, menari, dsj. Ini adalah persembahan untuk orang tua dari mereka. Saat unjuk prestasi, yang anak butuhkan adalah tepuk tangan dan apresiasi orang tuanya. Jika orang tua tak hadir, rusaklah kepercayaan anak. Kehadiran orang tua dalam kegiatan mereka adalah pengakuan eksistensi anak. Orang tua yang cerdas, akan paksakan diri tuk hadir. Demi tercipta bonding.


Ya, demikian sekilas tentang bonding. 

Jadi teringat, kalau sedang pulang ke rumah dan bertemu banyak saudara ada saja yang berujar

" wah, alhamdulillah ya Lintang baik-baik aja di Bandung, ga berbuat yang aneh-aneh.."

fiuh..padahal bisa jadi semua ini memang bukan karena saya, tapi karena adanya bonding yang kuat dengan orang tua saya. Terutama bonding-bonding yang berupa doa-doa dari  yang menjaring hingga ke angkasa dan akhirnya bisa menjaga saya :')









oia, terkait panggilan "bunda" dari SPG tadi, rasanya mungkin akan jauh lebih merdu jika itu keluar dari mulut kecilmu. 
Maka, segeralah menyapa, nak..
*yang berarti segera pula bunda melewati segala proses untuk mewujudkannya ^_^














No comments:

Post a Comment