Tuesday, October 7, 2014

Tentang Kamu


Kepada kamu yang entah bagaimana membuatku jatuh hati dan seringkali (atau hampir selalu?) menginspirasi.


Hai, kamu.. iya kamu..
sebenarnya aku ingin menuliskannya tadi pagi agar ucapan selamat pagiku setidaknya bisa menyapamu saat kamu memulai hari. Senang sekali melihatmu yang selalu bersemangat dan tersenyum saat memulai hari, walaupun (sedikitnya) aku tahu terkadang ada hal-hal berat yang terkadang kau simpan saja dibalik lengkung senyum yang layaknya pelangi itu.

"masalah kita adalah urusan kita sendiri..
tugas kita hanyalah memberikan senyum yang baik bagi orang lain, jangan sampai mereka terbebani dengan masalah yang sebenarnya bisa kita atasi sendiri.."



Ah, dan tahukah betapa bersyukurnya aku mengenalmu dan kau percaya mengenal sekelumit hidupmu? Bahkan kau ijinkan sedikit mengetahui resah yang seringnya kau simpan rapi di dalam peti.

Kamu ingat kejadian malam itu ? Purnama tengah menguning ketika kita berbincang kemudian kau menitikkan beberapa air mata yang bening. Sejujurnya aku kaget begitu rupa. Kau yang biasanya kulihat tak lepas dari tawa, berkegiatan disini dan disana, dan ditengah keramaian begitu mudah sekali ditemukan karena suaramu yang ceria dan lantang- sampai terkadang aku memperhatikanmu dengan seksama, dimana kau letakkan baterai cadangan di tubuhmu, ya? karena seolah energimu tak pernah ada surutnya-, malam itu berurai tangis di depanku. Menceritakan tentang kerinduanmu pada lelaki yang dahulu pertama kali menuntun langkahmu, ya..ayahmu, yang ternyata sudah lama telah tiada dalam sebuah kejadian yang tak pernah kau duga.

Di lain hari, kamu yang lain, bercerita padaku di depan gedung serbaguna itu. Aku tak terbayang bahwa apa yang kau ceritakan tentang hidupmu akan membuat kita "bergerimis ria" untung saja di luar hujan cukup deras sehingga tangis kita sedikit tersamarkan
 -ya, walaupun saking deras dan berisiknya suara hujan membuat kita berbicara setengah berteriak agar bisa mendengar satu sama lain. Haha, lucu juga sebenarnya ketika sekarang mengingat dan membayangkannya. Suasana melankolis yang biasanya melatarbelakangi curhat semacam itu jadi agak gagal terasa. 

"iya..jadi gitu ceritanya.."
"yang sabar, ya.."
"hahh? apaa?"
"yang sabaar.."
"apaa?"
" yang S-A-B-A-R.. " ^_^a-

Belum lagi tentang kamu yang tetiba operasi kemudian esoknya sudah membantuku lagi membuat kue yang padahal jumlahnya cukup banyak hari itu, dan lagi-lagi tanpa banyak keluhan berarti. Atau tentang kamu yang tak ada kabar beberapa hari dan tetiba sudah terbaring tak berdaya karena suatu musibah dan hanya memberitahuku masih dengan sikap biasa seperti tak ada apa-apa.

Ah, kamu.. bagaimana aku tak jatuh hati?
Tahukah betapa engkau begitu menguatkan aku hanya dengan mengetahui bahwa kau begitu kuat membawa bebanmu sendiri?

terima kasih banyak, ya..
meski aku tak bisa memberi dan berbuat banyak, ijinkan aku tetap memandangmu dengan mata hatiku untuk hari ini dan seterusnya. Boleh, ya?

dan karena Dia adalah sebaik-baik penjaga, tempat mengadu, dan meminta pertolongan,
maka kala ragaku tak mampu lagi kau sandari dan membantu menguatkan, ijinkan aku memelukmu dengan pucuk-pucuk doa..

Allah, hamba titip saudari-saudari hamba.. :'(

No comments:

Post a Comment