Saturday, October 27, 2012

Menjadi Ibu Itu "Sesuatu" Sekali


Pada suatu siang yang terik saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa keperluan. Ketika akan memasuki pintu minimarket ternyata pintu minimarket tersebut tidak bisa saya tarik meski telah sekuat tenaga. Oh, pantesan, ternyata tulisannya "DORONG" *tepokjidat*

Setelah memilih-milih barang yang saya perlukan saya pun pergi ke kasir untuk membayarnya. Saat mengantri, tepat di depan saya juga tengah mengantri seorang pria muda yang tengah menggendong seorang bayi perempuan yang lucuuu sekali. Matanya bulat dan lebar, pipinya tembem, dan ia begitu riang menggerak-gerakkan tangannya sambil berceloteh yang entah apa artinya. Dan bayi itu pun menatap saya sambil tersenyum-senyum..(haha,apa saya aja kali ya yang GR)

Haaa....benar-benar menggemaskan >.<

Antrian yang cukup panjang sepertinya membuat bayi kecil lucu itu agak bosan,
"pa..pa.." celotehnya sambil menepuk-nepuk pipi pria yang tengah menggendongnya (kayaknya pria itu memang ayahnya). Namun sepertinya sang ayah agak sibuk mengecek barang belanjaan yang ada di troli yang ia bawa. Mungkin karena merasa tak diperhatikan ekspresi bayi kecil itu berubah menjadi agak sedih, matanya berkaca-kaca. Waduh kayaknya bentar lagi nangis, nih. Jadi makin pengen ngegendong >.<



kemudian entah bagaimana bayi itu menatap ke arah saya dengan matanya yang semakin berkaca-kaca dan berkata,
" Bu.."
eh,
"Bu.."
waduh, sekali lagi dapet piring cantik nih si adek bayi ini.
"Buu.." terakhir dia mengucapkannya dengan menjulurkan tangan ke arah saya, minta digendong. Ah, GR aja, kayaknya ibunya emang lagi di belakang saya dan bayi itu emang lagi manggil ibunya. Dan ketika saya menoleh ke belakang, JRENG... ga ada siapa-siapa lagi yang ngantri.

"HUAAAAA.."
yak,dan bayi kecil itu pun menangis kencang sekali. Ayah bayi tersebut pun nampak begitu kerepotan mendiamkannya. Dan bayi itu kembali menatap saya tetap dengan tangan terjulur seperti minta digendong,
"HUAAA..buuu..buu.."
waduh, harus gimana nih..
tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang datang dan nyeletuk,
"Haduh kasian..mamanya ga mau ngegendong ya,de?" dia mengucapkan itu sambil melirik ke arah saya,
"eh..oh..bukan,bu..saya bukan ibunya.." jawab saya sambil agak salah tingkah.
"Ya udah..digendong bentar aja sih, mbak..kasian tuh bayinya pengen banget mbak gendong kayaknya" ucap ibu-ibu lain yang juga tiba-tiba datang.

Haduh, bukannya ga mau ngegendong, cuma saya agak bingung aja tadi. Kemudian saya meminta bayi itu dari gendongan ayahnya.
"Waduh, maaf ya mbak jadi ngerepotin" ujar sang Bango eh sang Ayah.
Setelah ada di pelukan saya bayi itu langsung berhenti menangis, kemudian dia tersenyum manis sekali sambil menepuk-nepuk wajah saya,
"bu..bu..bu.."
Huaa..meleleh rasanya :')
Dan sambil meminum sebotol susu, bayi kecil itu perlahan terlelap di pelukan saya.

"wah Naila, sampe bobo gitu.." ujar sang ayah sambil menatap putri kecilnya. Ho, bayi kecil cantik ini namanya Naila.
"Kayaknya Nailanya kecapekan, oia memang ibunya ga ikut ya, pak?" tanya saya yang langsung membuat wajah pria itu jadi agak sendu.
"Ibunya baru saja meninggal sebulan yang lalu.." ujar pria itu dengan suara agak serak.
"Oh..maaf.."
Kemudian saya menatap Naila yang masih terlelap di pelukan saya. Naila sayang.. sekecil ini sudah harus piatu. :'(

Singkat cerita, Naila yang masih terlelap saya kembalikan pada ayahnya dan mereka pun pulang. Naila, bayi kecil cantik, putri pertama dan satu-satunya dari ibunya yang kini telah tiada.
Ah, Naila.. semoga bisa tumbuh jadi muslimah yang sholehah dan kuat,ya..
Tante hanya bisa memilinkan doa dari sini..*tante? berasa aneh nyebut diri sendiri "tante" -_-a

Fiuhh..(kayaknya) menjadi ibu itu sesuatu sekali, ya
menjadi ibu berarti harus bisa memberikan sekotak penuh senyum, kesabaran, dan bahkan  merelakan nyawa..

ah, jadi kangen ibu :'(




Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
(IBU_ Hadad Alwi dan Farhan)







Z : Setuju sama kata-kata ini, ga? "Cinta hanya sekedar kata sampai kau menemukan seseorang untuk menjelaskannya."
L : Setuju :) tapi tidak perlu menunggu lama, karena sejak tangis kita pecah untuk pertama kalinya, sejatinya kita telah menemukannya (seseorang itu)... ibu :)











No comments:

Post a Comment