Monday, October 7, 2013

Kehabisan Stok Perasaan


Hai, kamu..
Selamat bermalam selasa..

Ah, apa pula. Baiklah sesungguhnya aku hanya ingin sedikit meracau saja. Boleh, ya?

Kau tahu ? Rupanya tak semua orang paham bahwa tak selamanya orang yang sering berada di tengah kerumunan orang dan jadi pusat perhatian itu adalah orang yang menyukai keramaian. Tak semua mengerti bahwa ada dia yang terlihat suka bicara dan begitu terbuka terkadang begitu membutuhkan diam dan tidak suka mengobral cerita terkait dirinya. Tak juga banyak yang tahu bahwa orang yang terlihat mudah akrab dengan sesiapa saja, sering mendengar berbagai curahan hati dan cerita ada kalanya butuh sendiri dan tak ada banyak orang yang menemui.

Ah, kau tahu kan siapa yang sedang aku ceritakan. Ya, dan dia sekarang sedang mengalaminya lagi. Saat-saat butuh kesendirian dan tak banyak interfensi dari luar. Tidak untuk obrolan-obrolan, tidak untuk segenap pertanyaan, dan untuk sapa-sapa, tidak untuk segenap telepon, chating, maupun sms-an, bahkan tidak untuk pesanan-pesanan. Rasanya ia ingin menghibernasikan si "talenan putih"-begitu mereka menyebut handphone-nya- namun kejadian beberapa bulan yang lalu membuatnya mengurungkan niat, kejadian disaat ia menghibernasikan handphone-nya selama tiga hari kemudian membuat ibunya sulit menghubungi dan membuat ibunya cemas hingga datang langsung ke bandung untuk melihat apakah putrinya masih baik-baik saja. Fiuh,,

Dia tidak sedang kehilangan kasih sayangnya pada orang-orang, bukan pula tak lagi cinta dan tak perhatian. Hanya saja.. hmm, dia menyebutnya dengan kehabisan stok perasaan. Kehabisan stok perasaan? Haha, ya, dia hobi sekali sepertinya menciptakan frasa baru yang agak sulit dipahami. Kau mungkin sering melihatnya berinteraksi dengan banyak orang, dan kau tahu? dia sebenarnya bukan tipe orang yang senang berbasa-basi, jadi jika dia memutuskan untuk berinteraksi, berbicara, dan mendengarkan, ia akan selalu berusaha mencurahkan segenap perhatian dan melibatkan banyak perasaan. Nampaknya bagus, ya? Ah, entahlah. Sepertinya tidak juga, karena hal itulah yang sering membuatnya mengalami kehabisan stok perasaan tadi.

Katanya, seperti hujan yang membasahi hutan gundul, bukan hujannya yang tak baik, hanya saja tanpa adanya tumbuhan hujan tadi hanya akan melukai, membuat tanah tererosi.

Untung saja Rasulullah yang tercinta sifatnya tidak seperti dia. Perhatian Rasulullah tercurah untuk umatnya, bahkan sebelum wafatnya saja umatnyalah yang beliau panggil. Rasulullah tentunya bukan orang yang menganggur. Menerima wahyu, menyampaikan dan menjelaskannya, mengatur negara, mengatur strategi perang, ah, dan masih saja beliau bisa menjadi suami, ayah, keluarga, tetangga, dan bahkan lawan yang baik. Sepadat dan sesibuk itu saja begitu banyak rasanya hadist yang menggambarkan bahwa beliau masih sempat menerima segenap pengaduan-yang bahkan sebagian sekarang kita anggap remeh untuk ditanyakan pada seorang pemimpin-.dan juga mendengar segenap keluhan. MasyaAllah.. Allahumma shalli ala Muhammad..
:')

Dan mengingat hal inilah yang membuat dia sedemikian sedih. Ya, sangaaaat sedih. Dia tidak sesibuk Rasululullah dan tak memiliki beban seberat beliau, tapi mengapa begitu "sok-sok-an" kehabisan stok perasaan??

Tak sadarkah bahwa semakin dewasa memang akan semakin banyak kepentingan orang terkait padanya. Mungkin sekarang hanya seputaran keluarga dan teman-temannya. Lalu bagaimana ketika ia nanti memiliki seseorang yang harus dia dampingi dan dia kuatkan langkah-langkahnya? Bagaimana pula jika nantinya telah hadir "malaikat-malaikat kecil" yang nantinya begitu sering memanggil namanya? Begitu selalu ingin dekap dan perhatiannya? Apa iya dia akan tetap mengatakan, "maaf, jangan ganggu..saya sedang kehabisan stok perasaan." Tidak bisa begitu, bukan?

Bila kembali meneladani Rasululullah tercinta, dan memang seharusnya demikian, mengapa beliau seolah tak pernah mengalami "kehabisan stok perasaan"?
Ah, tentu saja. Beliau begitu dekat dengan Sumber Energi yang Tak Ada Habisnya. Allah Subhanahu wa ta'ala.. Malam-malam yang menjadi pendek karena sujud-sujud yang panjang, hati dan bibir yang jarang lepas dari lantunan Alquran, nikmatnya siang hari di musim kemarau karena shiyam, harta yang dicari denganc cara suci dan senantiasa tersucikan karena zakat dan diedekahkan, ah.. tentu saja..tentu saja semua itu membuatnya tak pernah kehabisan stok perasaan.

Lalu dia? Bagaimana dia sekarang? Ah, rasanya aku ingin menangis pula untuknya..

Baiklah, tentang dia, mungkin kau yang paling bisa menasehatinya, katakan padanya.. tak mengapa bila ia butuh untuk sendiri dan kembali mengumpul energi, namun.. menyendirilah hanya dengan-Nya, kumpulkanlah segenap "rasa" dengan menyepi dan menaati-Nya. Jangan buat hati gampang berlubang dengan tak taat pada apa yang Ia perintahkan. Ya, karena bisa jadi dia sering kehabisan stok perasaan karena pada hatinya dimana-mana terjadi kebocoran.

Hmm.. dengan begitu semoga "reboisasi hati" lebih cepat selesai dan hatinya kembali bisa menikmati hujan hikmah dan pahala dari berinteraksi dengan sesama. Dengan begitu juga semoga stok perasaannya bisa bertambah hingga limit menuju tak hingga..

aamiiin..

salam ya untuk dia,
dari aku
kamu yang lain selain dia.


-----

bukan masalahnya yang besar
hatinya saja yang kurang lapang..

T_T

ya, Rabb..


No comments:

Post a Comment