Friday, December 21, 2012

Saya Suka ***** yang ******



Hujan turun! 

Seharusnya saya senang. Sebab hujan memang menyenangkan. Mengamati bening rintik-rintik air menelisik tanah. Menyentuh kaca yang berembun, lalu menuliskan huruf-huruf dengan jemari. Aroma petrichor yang melegakan. Atau suara-suaranya genting yang diketuk-ketuk atau dahan yang diterpa-terpa. Ritmis, dan kadang melankolis.

Tapi tidak menyenangkan kala itu terjadi di siang yang padat dan sibuk. Seperti hujan tadi siang itu. Lihatlah, saya telah sempurna bersiap dari ujung kepala hingga kaki. Ransel di pundak, botol minum di genggaman, dan tak lupa sepatu kain motif kotak-kotak siap dikenakan. Sempurna.

Hujan! Mengapa? Mengapa itu turun justru ketika saya hendak berangkat?
Aih, pertanyaan itu, bukankah itu semacam penyesalan atas sebuah keadaan? Dan itu, tidaklah meluncur dari seorang yang menyukai keadaan itu. Jelas tidak. Mereka, para penyuka itu, akan mengulum senyum seraya bertahmid. Terimakasih ya Allah, terima kasih atas turunnya hujan ini. Berbinar.

Maka, bercerminlah saya, dengan muka sedikit terlipat, melepas kembali sepatu kain itu. Meletakkannya kembali di rak dekat pintu. Menggantinya dengan sepasang sepatu karet. Malas-malasan memakainya, sambil awas menatap luaran. Berhentilah! Kumohon.. Berhentilah minimal sejarak tempuh perjalanan siang itu.

Begitulah! 
Mungkin saya perlu mempertanyakan kembali, benarkan saya penyuka hujan sejati. Betapa susahnya menyukai jika masih banyak ‘yang’ menyertai. Hujan yang tak terjadi di saat saya berangkat terburu-buru ke suatu tempat, yang tak membadai, yang tak membanjiri, yang tak berhalilintar, yang ritmis, yang tak membasahi jemuran, yang tak lebat. Betapa banyak sarat. Betapa itu kian menyempit. 

Berapakah kemungkinan itu terjadi dengan ‘yang-yang’ tadi ikut serta mengiringi? Sedikit!

Saya menyukai hujan yang berair. Mungkin harusnya begitu. Harusnya saya menyertakan ‘yang’ yang memang pasti mengiringi. Bukankah hujan memang titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan (lain soal bila kau kemudian punya makna generalisasi sendiri terkait hujan ini). Maka saya akan selalu menyukai hujan selagi orang-orang bersepakat bahwa definisi yang  saya sebutkan tadi adalah hujan. Hingga akhirnya begitu luas semesta kesukaan saya.

Bila kemudian banjir datang, badai menerjang, atau alasan kecil semacam cucian yang tak kunjung kering, tak akan ada lagi kutukan buat hujan. 

Terima kasih ya Allah, lewat hujan yang berakhir banjir ini, Kau tunjukkan pada kami bahwa kami sudah terlalu. Kemudian saya akan (kembali) menanam pohon rindang di halaman rumah (aih, bulir-bulir air yang memantul dari daun-daun juga tak kalah cantiknya), melepas paving di halaman (biarlah…biarlah air meresap, meski sedikit becek), atau membuat tempat jemuran yang terbebas dari hujan. Berharap orang-orang juga akan melakukannya

Saya menyukai ***** yang ******. Sepertinya, akhir dari semua ini, saya harus pandai-pandai mencari pengisi titik-titik kedua atas titik-titik pertama yang telah saya putuskan. Sebab, inilah yang bakal menentukan jangkauan kesukaan saya. Juga kualitas tentunya, mungkin. Juga yang pasti nilanya.

Ah,
Saya tak sanggup lagi meneruskannya, Kawan! Ataukah memang sudah selesai. Mungkin.







We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

i won't give up on us..
#eeaa #tepokjidat

2 comments:

  1. teh lintaaaang, aku suka banget postingan ini. filosofis. menyentuh.

    and, I guess, I know what the blank is.. *haha, really weird*

    but, does anyone can freely fill the blank? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha..apa cobaaa?
      kan keliatan tuh dari jumlah bintangnya. Yeah..just feel free to fill (?) ^_^

      Delete