Tuesday, August 9, 2022

Papa Vega

" Ayah, tahu ga, sih? Nama anaknya Victor Axelsen itu Vega, lho..", kata Bintang suatu hari saat video call dengan ayahnya. "Lah, apa urusannya tahu nama anaknya?", tanya sang ayah kebingungan. "Ya..karena itu dia sering dipanggil Papa Vega sama penonton bulu tangkis". Bagi ayah mungkin info semacam itu terasa kurang penting (saha deui Victor Axelsen teh.. asa teu wawuh)😅 tapi bagi Bintang yang mulai jadi badminton lovers, info semacam itu penting untuk dicari dan diketahui. 

 --- 

 Beberapa waktu lalu di grup whatsapp komunitas Riung CM (komunitas belajar filosofi dan metode pendidikan Charlotte Mason di Bandung) kami mengobrol tentang pendapat CM bahwa "atensi anak akan secara alamiah merespon pesan yang disampaikan dalam bahasa sastrawi". Saya jadi teringat podcast dari Huberman Lab yang juga membahas tentang atensi. Di podcast tersebut Profesor Wendy Suzuki, neuoroscientist yang diundang sebagai bintang tamu, menjelaskan bahwa setidaknya ada 4 faktor yang membuat suatu hal mudah diingat atau mendapatkan atensi kita:

1. Novelty (kebaruan)
Sesuatu yang baru dan berbeda dari yang kita kenal atau alami sebelumnya akan lebih mudah medapatkan atensi dan mudah kita ingat.
2. Repetition (pengulangan)
Sesuatu yang sering diulang akan lebih mudah kita ingat karena dalam otak kita akan terebentuk jalur baru tentang hal tersebut dan jalur itu kian lama kian kuat karena sering berulang kita sebut/bahas/pikirkan.
3. Association (asosiasi)
Sesuatu yang memiliki hubungan dengan hal lain yang sudah kita kenal akan lebih mudah mendapat atensi kita dan akan lebih mudah diingat. Misalnya, saat berkenalan dengan orang baru, biasanya kita akan lebih perhatian dan ingat pada orang yang ternyata memiliki teman yang sama dengan kita, berasal dari daerah yang sama, atau pernah memiliki pengalaman yang sama, dsb.
4. Emotional Resonance 
Suatu hal yang membuat kita merasakan emosi (baik senang, sedih, marah, tegang, dsb) akan lebih mudah menarik atensi kita dan lebih mudah diingat.

Dari keempat faktor tadi, "pesan yang disampaikan dalam bahasa sastrawi" atau dalam metode Charlotte Mason sering disebut dengan Living Book, sepertinya memenuhi kriteria ke-3 dan ke-4. Living book biasanya bukan buku yang berisi sekumpulan fakta atau daftar pesan moral, namun pengetahuan atau pesan moral yang dibalut dalam cerita dan penyampaian yang berkonteks serta gaya bahasa yang naratif. Hal ini membuat kita dengan lebih mudah bisa membuat asosiasi antara hal yang kita baca di living book dan pengalaman atau pengetahuan yang kita miliki sebelumnya.

Living book juga seringnya membuat pembaca teraduk-aduk emosinya atau setidaknya bisa sedikit membayangkan perasaan yang dialami tokoh dalam buku ataupun suasana yang digambarkan.

Pertanyaan yang timbul kemudian biasanya adalah, apa pengetahuan dari living book itu cukup bagi kebutuhan belajar anak? Bukankah banyak hal lain yang mau tidak mau harus dipelajari juga dari buku-buku lain?

Hmm.., mungkin seperti Bintang yang sekarang menyukai bulu tangkis, ya. Awalnya ia jatuh cinta saat menonton pertandingan bulu tangkis yang seru. Ia jadi berelasi dengan keseruan saat kami bermain bulu tangkis sore-sore di depan rumah. Dan juga di olahraga bulu tangkis ia banyak melihat pemain Indonesia, "eh, negaranya sama ya kayak aku". Belum lagi perasaannya ikut terbawa, ikut tegang saat pertandingan, ikut senang saat menang, ikut kecewa saat kalah, ikut sedih saat ada pemain cedera padahal sudah di poin akhir penentu kemenangan.. Setelah "jatuh cinta" tadi, fakta-fakta yang bagi orang lain mungkin garing dan kurang penting (seperti nama panjang pemain ini siapa, dia ranking berapa, umurnya berapa, julukan dari badminton lovers apa😅) dengan senang hati dia cari dan ingat.

Mungkin begitu juga saat anak "jatuh cinta" pada pengetahuan melalui living book. Karena sudah kenal dan jatuh cinta, setelah itu pengetahuan lebih lanjut, meski dari sumber yang mungkin tidak lagi sastrawi, akan dengan sukarela ia cari dan pelajari.

Kalau kata iklan deodoran zaman dulu, "kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda" , jadi kesan pertama ini krusial ya sepertinya.. 😆

---

Dalam video di atas Bintang sedang menarasikan buku "Muhammad Teladanku" (buku yang bercerita tentang perjalanan hidup Rasulullah SAW) di sesi homeschooling kami. Buku ini tidak masuk daftar living book a la CM, sih.. tapi bahasanya menurut saya cukup naratif sehingga buku ini saya pakai sebagai salah satu buku untuk pelajaran agama Bintang. 

Karena sepertinya Bintang tertarik dan terpantik dengan ceritanya, di luar jam pelajaran terkadang Bintang tetiba tanya hal-hal yang kadang saya lupa atau malah baru tahu. "Bunda tahu ga siapa sahabat yang suka pakai ikat kepala merah?" "Abdurrahman bin Auf lucu, deh, Bun ceritanya.. masa hartanya ga habis-habis. Padahal udah dikasih-kasihin, bertambah lagi, bertambah lagi". "Bintang tahu darimana?", tanya saya. Rasanya belum pernah saya cerita atau bacakan. "Itu.. baca-baca sekilas buku Muhammad Teladanku yang lain sama buku bunda yang di rak".

Ingat hal ini jadi sedikit lega, sih..oh berarti teori living book, narasi, dll tuh beneran ngefek, ya..

Tapi ingat hal ini juga jadi deg-deg-an. Kalau kata CM, pilar pendidikan itu ada tiga: Atmosfer, Kebiasaan Baik, dan Ide Hidup. Dan perkara pengetahuan dari living book baru (sebagian dari) perkara ide hidup, atmosfer dari lingkungan terdekatnya (terutama kami orang tuanya), dan kebiasaan baik yang kami latihkan juga masih menjadi PR besar. 😥

Kalau kata Teh Laila, pemateri sesi webinar yang saya ikuti beberapa waktu lalu, hal yang pertama dan utama sebagai pendidik adalah hati yang ikhlas dan senantiasa memohon bimbingan Allah. Bahwa tiada daya dan upaya kita yang berarti dalam mendidik anak selain dengan adanya izin dan pertolongan Allah. Dengan keyakinan ini, atmosfer kita sebagai orang tua juga akan tenang dan baik. Saat melatihkan kebiasaan baik juga kita menjadi lebih tenang dan tidak mudah emosi. Karena kita yakin bahwa tugas kita adalah berikhtiar mencari cara yang tepat dalam membiasakan hal yang baik, urusan hasil adalah hak Allah. Dan dalam sesi akademis pun kita akan fokus melakukan yang terbaik yang kita bisa dalam menyajikan ide hidup, dengan berharap semoga ikhtiar kita ini membuat Allah mengaruniakan pertolongan-Nya dan memberikan hidayah dan taufik-Nya pada benak anak kita. :')


"Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan"

"Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya"

💓




2 comments:

  1. Gimana ya bisa berempati ke hal yg anak suka. Anak2 ku bucin banget sama games dan robot. Tiap hari mereka narasiin yg mereka temuin kaya yg bintang lakuin. Nyebutin sesuatu yg aku ga ngerti. Nama karakter di games nya. Fitur nya. Dll. mereka ga ngegames, tp mereka ngeyoutube buat ngegambar karakter2 di games nya (suudzon aku itu modus oparndi mereka 😂). Nah aku ga suka kan mrk ngegames .. jadi respon aku lempeng. Kl bintang kan badminton ya. Aku masih bisa berempati deh. Kl ke games aku ga bisaaaaaa. Helpppppppp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kalau ga bisa berempati sama obyeknya, kita bisa coba berempati sama orangnya, Mb Puut.. (yang tak lain dan tak bukan adalah anak kita sendiri :D ). Kujuga meski suka badminton tapi kalau bahasnya seharian dan itu-ituu lagi juga kadang rasanya lieur, heuheu.. tapi kalau udah lieur kayak gitu biasanya saya fokusnya ke binar matanya, semangat dia saat cerita, sembari berusaha (dgn keras) jadi pendengar yang baik. Kalo tetep ga bisa biasanya saya beralasan, "Boleh ga Bin kita ceritanya nanti siang? Bunda skrg mau kerjain xxx dulu soalnya.."

      Oia, mbak..tapi baca pertanyaan ini kujuga jadi ingat kegalauan beberapa waktu lalu. Di bagian ngefans2 ini kusempat galau ttg "kok anak ngefans nya atau tertariknya sama hal yang bukan saya harapkan ya :(? Gimana kalau karakter dia jadi blablabla.." terus ga sengaja baca status mb Maya Lestari GF yang anaknya sempat ngefans sama K-pop tapi akhirnya sekarang anaknya sendiri yang dengan sadar keluar dari fandom dan mengurangi ketertarikannya sama K-Pop. Salut banget sama mb Maya, selama proses itu beliau ga mentah2 melarang anaknya, tapi berperan jadi pendengar dan teman yang baik dulu (mungkin sembari tetap memaparkan dengan ide atau kegiatan lain, ya..). Pun beliau bilang, beliau berusaha jadi tameng bagi anaknya dari komentar2 buruk orang lain (kok anaknya ngefans sama k-pop sih? nanti jadi begini begitu, lho..dll). Sampai akhirnya berbuah manis, hubungan dia dan anaknya tetap baik dan anaknya secara sadar mengurangi sendiri ketertarikannya. :')

      Delete