Tuesday, November 2, 2010

# HikmahyangBerserakan

Siapa Takut Berkeluarga ?!

Catatan si Ika *

Siapa yang masih takut untuk berkeluarga?
saya?
anda?
atau dia?
kenapa harus takut??
(hoho tenang2.. ini bukan merupakan salah satu kajian dari Sakolah Pra***** kok)


ya... memangnya kenapa harus takut, kita kan memang sekarang telah berstatus berkeluarga dengan seorang ayah,seorang ibu,kakak-adik,nenek-kakek,pakdhe-budhe,dll.
tapi apa kita sudah berkeluarga dengan benar?

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

sudahkah kita berkeluarga dengan benar dengan menjalankan ayat di atas?

Lihatlah ibu kita yang telah bersusah payah mengandung,melahirkan dan membesarkan kita
tataplah ayah kita yang tanpa enggan membanting tulang hanya untuk memenuhi segala yang kita inginkan
atau pandanglah adik atau kakak kita yang selalu membersamai kita entah di saat berurai air mata atau tengah terlena dalam tawa
lalu apakah kita rela sedikit saja kulit mereka tersentuh api neraka???

Syeikh Said Hawwa mengatakan bahwa, ketika kita ingin membangun sebuah peradaban yang islami,maka harus dimulai dari membentuk pribadi yang islami dan keluarga yang islami. Kita terkadang terlalu sibuk untuk mengajak orang lain pada kebaikan dan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di luar rumah hingga terkadang melupakan bahwa keluarga kita memiliki hak yang lebih besar untuk diajak kepada kebaikan dan dihindarkan dari kemungkaran.
Mengajak keluarga pada kebaikan atau berda'wah dalam keluarga bisa dimulai dari hal-hal yang kecil,misalnya membiasakan shalat berjama'ah,mengajari adik kita mengaji,atau hanya sekedar mencolek (emangnya sabun?) ayah kita untuk pergi ke masjid bersama.

Memang terkadang semuanya tak berjalan semulus itu. Tak bisa dipungkiri terkadang hal-hal tersebut sulit dilakukan atau bahkan terkadang mengalami penolakan. Hingga tak jarang terdengar nada miring
"anak bau kencur tau apa sih? sok-sokan nasehatin orang tua"
"apaan sih sok alim?"
"wah jangan-jangan kamu ikut aliran sesat??"
bila hal itu terjadi kita tidak boleh berputus asa,bukankah ayah Nabi Ibrahim pun adalah seorang penyembah berhala dan Nabi Ibrahim tetap menda'wahinya?
Lagi pula kan katanya kita sayang pada keluarga kita..masih tetep ga mau kan mereka nantinya tersentuh api neraka??

Ya..tapi hidayah itu merupakan hak prerogatif Allah.
Sekeras apapun usaha kita Allah-lah yang menentukan pada siapa hidayah itu layak diberikan.Bahkan seorang Nabi Nuh pun tak berdaya menyelamatkan istri dan buahhatinya dari jurang kekafiran,jadi yang terpenting adalah kita tetap berusaha untuk berda'wah di keluarga kita.
Keluarga haruslah tetap menjadi prioritas pertama yang kita da'wahi.
Lagipula bukankah da'wah ini adalah untuk kepentingan diri kita pribadi,karena tak mungkin jika kita mengharapkan pahala yang banyak jika hanya mengandalakan amalan pribadi kita.

"jika Allah memberi hidaya kepada seseorang lewat perantaraanmu,itu lebih baih bagimu dari pada setiap yang disinari matahari." (HR ath-Thabrani)

jadi siapkanlah pena untuk menuliskan rencana da'wah kita pada keluarga namun serahkanlah penghapusnya pada Allah.
Semoga dikemudian hari kita tidak termasuk orang yang menyesal karena melalaikan da'wah terhadap keluarga kita sendiri.

Jadi sudah siap untuk berkeluarga dengan benar??
wallahu'alam bishowwab


*catatan si Ika (ifthar kamis)

No comments:

Post a Comment